KementerianKomunikasi dan Informatika. Publikasi. Terkini. TERKINI. Wapres Apresiasi Penyelenggaraan ASEAN Para Games XI 2022 di Surakarta a day ago. Peringati Tahun Baru Islam 1444 H, Wapres Harapkan Keutuhan Bangsa Semakin Diperkuat 2 days ago. 100 Tahun Industri Tekstil Nasional, Kemenperin dan Kominfo Gelar Forum Tematik Bakohumas 2 days ago. Rupanya para editor Wikipedia yang bekerja secara sukarela itu telah meminta akses terhadap Google Translate sejak lama. Menurut mereka, Google Translate dianggap lebih andal karena disenjatai dengan teknologi AI dan menguasai 15 bahasa lebih banyak dibandingkan dengan Apertium. Dilansir dari The Verge, nantinya bahasa-bahasa baru yang akan MencegahKepunahan Bahasa. Sebanyak 10 bahasa daerah di Indonesia dinyatakan telah punah, sedang puluhan hingga ratusan bahasa daerah lainnya saat ini juga terancam punah. Temuan ini didapat dari hasil penelitian para pakar bahasa dari sejumlah perguruan tinggi. Menurut Kepala Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Dendy Sugono, sepuluh cash. Dari ketiga bahasa daerah tersebut, bahasa Rejang dan Enggano terancam punah sedangkan bahasa Melayu Bengkulu seperti di daerah Serawai, Pesemah, dan Mukomuko masih tergolong amanBengkulu ANTARA - Kepala Kantor Bahasa Bengkulu Yanti Riswara menyebutkan bahwa dua bahasa daerah dari Provinsi Bengkulu, yaitu bahasa daerah Rejang dan Enggano terancam punah berdasarkan hasil penelitian gaya hidup saat ini. "Berdasarkan data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menyebutkan bahwa ada 11 bahasa daerah yang terancam punah, termasuk dua bahasa daerah dari Bengkulu yaitu bahasa Rejang dan Enggano," katanya di Bengkulu, Kamis. Kantor Bahasa Bengkulu adalah Unit Pelaksana Teknis UPT di bawah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi Kemendikbudristek Ia mengatakan bahwa berdasarkan hasil pemetaan bahasa yang dilakukan oleh badan bahasa dan balai/kantor bahasa se-Indonesia, ada tiga bahasa daerah di Provinsi Bengkulu, yaitu bahasa Rejang, bahasa Melayu Bengkulu, dan bahasa Enggano. "Dari ketiga bahasa daerah tersebut, bahasa Rejang dan Enggano terancam punah sedangkan bahasa Melayu Bengkulu seperti di daerah Serawai, Pesemah, dan Mukomuko masih tergolong aman," katanya. Saat ini, katanya, selain bahasa Rejang dan Enggano, bahasa daerah lain yang terancam punah sebagian besar berasal dari Indonesia bagian timur yaitu Papua, Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara. Karena itu, pihaknya berharap dua bahasa daerah Enggano dan Rejang yang merupakan bahasa asli masyarakat Provinsi Bengkulu tidak ikut punah karena perkembangan zaman. "Untuk menjaga agar bahasa-bahasa daerah yang ada di Bengkulu tidak sampai punah, masyarakat harus kembali menghidupkan bahasa daerah tersebut dengan melakukan upaya agar generasi muda tetap menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari," katanya. Ia menjelaskan bahwa ada tiga faktor utama agar bahasa tidak punah, yaitu pertama pengajaran muatan lokal bahasa daerah, kedua, setiap keluarga kembali menggunakan bahasa daerah di lingkungan keluarga masing-masing dan ketiga, pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mendukung pelestarian bahasa daerah, dengan membuat program-program pembinaan bahasa daerah, termasuk membuat kamus. Dengan dilakukannya ketiga hal tersebut bahasa daerah Rejang dan Enggano serta bahasa daerah lainnya yang ada di provinsi tidak akan punah, demikian Yanti Riswara. Baca juga UI dokumentasi arsip digital mitos dan ritual Suku Enggano Baca juga Menag dukung pengembangan Alquran terjemahan bahasa Rejang Baca juga LIPI ekspos keanekaragaman hayati Pulau Enggano Baca juga Kantor Bahasa beri pembinaan khusus napi anakPewarta Helti Marini SEditor Andi Jauhary COPYRIGHT © ANTARA 2021

google translate bahasa daerah bengkulu